Minggu, 08 November 2015

Campaign #PelindungAnak Oleh UNICEF




Di tahun 2015 ini masyarakat Indonesia digemparkan oleh beberapa kasus kekerasan terhadap anak yang datang secara bertubi-tubi. Diantaranya, Kasus penganiayaan terhadap gadis cilik Engeline di Bali, penelantaran 3 anak oleh orang tuanya di Cibubur, dan pemerkosaan beberapa siswa di Jakarta Barat oleh guru. Data yang berhasil dihimpun, oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan peningkatan jumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak. Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014, terjadi peningkatan yang signifikan. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus.

Kekerasan dapat berwujud dalam aneka perilaku, tetapi semuanya dapat mengakibatkan penderitaan psikologis dan fisik. Sikap merendahkan martabat orang lain, mengancam, memaksakan kehendak, merampas kemerdekaan, mengucilkan, menelantarkan, eksploitasi merupakan contoh kekerasan.Pelaku kekerasan terutama adalah orang tua atau kerabat anak, pengasuh, orang di sekitar tempat tinggal anak, dan guru. Anak, dalam undang-undang biasa disebut "orang di bawah umur", adalah mereka yang berusia di bawah 17 tahun. Pengalaman yang terbatas memengaruhi pemahaman dan persepsi anak tentang dunia. Mereka belum cukup pengalaman untuk menelaah semua informasi yang ada. Itulah sebabnya, anak sangat membutuhkan pendampingan orang dewasa. Namun, sebagian orang dewasa yang diharapkan dapat berperan sebagai "guru" justru berperilaku buruk terhadap anak.

Sebagai salah satu organisasi kemanusiaan dibawah naungan PBB yang peduli terhadap masalah anak-anak, UNICEF Indonesia bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) membuat sebuah Campaign dengan nama #PelindungAnak yang bertujuan mengakhiri kekerasan terhadap anak. Dalam menjalankan kampanye #PelindungAnak UNICEF dan KPPPA mengajak berbagai lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan kelompok relawan untuk ikut berpartisipasi menyuarakan anti kekerasan terhadap anak.

          Kampanye #PelindungAnak ini untuk pertama kalinya dikenalkan oleh UNICEF dan KPPPA tanggal 11 Agustus 2015 pada Perayaan Hari Anak Nasional di Bogor. Dalam launching campaign #PelindungAnak, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise mempresentasikan Video Iklan Layanan Masyarakat #PelindungAnak pada Presiden Joko Widodo, anggota kabinet dan ratusan anak-anak dari seluruh nusantara yang hadir dalam acara Perayaan Hari Anak Nasional pada tanggal 11 Agustus 2015 di Istana Kepresidenan Bogor.

Salah satu media kampanye #PelindungAnak adalah website https://pelindunganak.org yang menyediakan berbagai informasi seputar Anti Kekerasan Terhadap Anak. Website https://pelindunganak.org merupakan portal informasi agar pengguna memahami, dapat mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak. Didalam website ini terdapat beberapa konten seperti : artikel, publikasi, apa yang perlu anda ketahui, apa yang perlu anak anda ketahui, dan video iklan layanan masyarakat. Selain itu juga dalam website ini pengguna dapat bergabung menjadi relawan #PelindungAnak dengan 3 Langkah : Langkah pertama, BERGABUNG dengan mengisi biodata di website pelindunganak.org, Langkah kedua, SEBARKAN link video iklan layanan masyarakat & website #PelindungAnak melalui sosial media twitter, facebook, dll, Langkah ketiga, LAPORKAN jika ada tindak kekerasan anak, cari lembaga layanan, bawa anak korban kekerasan, dan segera laporkan. Saat ini sudah ada 1681 orang relawan #PelindungAnak yang terdaftar di website pelindunganak.org.
 
Website pelindunganak.org ini ditujukan terutama bagi orang dewasa maupun para remaja, siapapun dan apapun perannya: ayah, ibu,  paman, bibi, kakek, nenek, tetangga, saudara  jauh, guru, Lurah, Ketua RT/RW, musafir, atau orang yang kebetulan sedang berada di suatu lingkungan. Semua dapat terlibat untuk mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak, siapapun anak tersebut: anak Anda sendiri, keponakan, cucu, tetangga, murid, teman atau anak yang tidak Anda kenal sekalipun.

oleh : saraswatie puteri

 Yuk kunjungi langsung websitenya di :


 dan jadilah 
#PelindungAnak


KITA SEMUA ORANG TUANYA.
"Semakin banyak yang menjaga, semakin jauh kekerasan dari anak-anak kita.
Karena hanya kita yang bisa."


ADIK PAPUA BERSINERGI PROJECT CAMPAIGN


 ADIK PAPUA BERSINERGI
adalah sebuah program campaign yang dibuat oleh saya dan 2 rekan Tim Kartini Tifani dan Rahmi dalam lomba Campaign Public Relations Jambore Nasional Komunikasi 2015 yang diselenggarakan oleh ASPIKOM.



Apa itu ADIK PAPUA ?

ADIK PAPUA merupakan salah satu program beasiswa dari kemenristek dikti yang diperuntukan bagi siswa -siswi yang berasal dari daerah Papua & Papua serta daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) seperti Nusa Tenggara, Maluku Utara, dan Aceh Barat untuk melanjutkan sekolah di jenjang Perguruan Tinggi.


Mengapa kami tertarik memilih program beasiswa ini ? Karena ada suatu permasalahan yang mengakibatkan jumlah mahasiswa aktif ADIK PAPUA mengalami penurunan.














Campaign oleh :



Project campaign ini membawa kami menjadi 10 besar tim dalam lomba Public Relations Campaign Jambore Nasional Komunikasi 2015.

Semoga project ini dapat terealisasikan suatu saat nanti,

Terima kasih Tim Kartini,
XOXO