Selasa, 06 Juni 2017

Catatan Untuk Aku

Menyadari, aku bukan aku yg sepenuhnya, aku adalah aku yang dibentuk oleh pemikiran - pemikiran orang lain akan aku.

Ternyata pemikiran orang lain tak sepenuhnya dapat kau andalkan,
pun tak selamanya kata orang dapat menghidupkan.

Tak tahu ini kan bermuara dimana, biarkan saja, saat kau terus berjalan dengan jujur, segenap usaha dan cita, saat itu kau kan sadar ini adalah tempat seharusnya kau berada.

S.P.S

#catatansaras #puisisaras

Belajar Jujur Pada Diri Sendiri

Hi,

Udah sekian abad lamanya gak nulis - nulis di blog lagi. Selain karena kesibukan skripsi jaman dulu sampai sekarang sibuk kerja. Emang anaknyaa males aja dan moody-an haha.

Nah disela - sela rutinitas kerja yg sibuk ini, aku ingin mencurahkan kegelisahan hati yang sering kupendam sendiri hff.

Well dikarenakan aku introvert dan bergolongan darah AB, aku anaknya memang tertutup dan sedikit aneh (banyak deng).

Tertutup? Yap aku gak suka menceritakan masalah pribadiku kepada orang yg belum benar-benar aku percaya dan nyaman. (Susah banget utk percaya & nyaman sama orang, gak tau kenapa ya)

Aneh? Jadi aku orangnya labilan banget sampe2 aku ngerasa suka punya 2 kepribadian yg berbeda. Which is satu kepribadian dimana aku ngerasa gak nyaman & insecure utk menjadi diri sendiri misal di Kantor, Tempat Baru dll. Dan satu lagi kepribadian dimana aku ngerasa nyaman dengan orang maupun lingkungannya which is keluarga, sahabat, teman terdekat.

Capeee banget ketika lo gak bisa jadi diri lo sendiri, memuakkan rasanya. Susah berekspresi, kaku, dan gabisa mengungkapkan apa yg sebenernya km rasakan, misal kaya rasa care, sayang, bahkan sampe marah atau kesel pun susah. It's suck! Pernah gak sih kalian ngerasa kaya gt?

Nah untuk ngakalinnya jadi aku curahkan ke tulisan aja deh, itung - itung releasing stress.


Oh yaa, dan yang paling penting sebenernya kamu harus bisa jujur sama diri sendiri, karena kalo km gak jujur sama diri kamu sendiri, kamu juga ngebohongin orang lain artinya. (Kata2 dr temen).
Aku masih terus belajar bilang "nggak ya nggak" & "iya ya iya" selalu putih dan hitam, jangan memilih jalan yg abu2, karena nantinya kamu akan bingung sendiri. Jujur itu harus, jujur pada diri sendiri itu wajib.✨



- SPS



Minggu, 08 November 2015

Campaign #PelindungAnak Oleh UNICEF




Di tahun 2015 ini masyarakat Indonesia digemparkan oleh beberapa kasus kekerasan terhadap anak yang datang secara bertubi-tubi. Diantaranya, Kasus penganiayaan terhadap gadis cilik Engeline di Bali, penelantaran 3 anak oleh orang tuanya di Cibubur, dan pemerkosaan beberapa siswa di Jakarta Barat oleh guru. Data yang berhasil dihimpun, oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan peningkatan jumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak. Hasil pemantauan KPAI dari 2011 sampai 2014, terjadi peningkatan yang signifikan. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus kekerasan, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada 5066 kasus.

Kekerasan dapat berwujud dalam aneka perilaku, tetapi semuanya dapat mengakibatkan penderitaan psikologis dan fisik. Sikap merendahkan martabat orang lain, mengancam, memaksakan kehendak, merampas kemerdekaan, mengucilkan, menelantarkan, eksploitasi merupakan contoh kekerasan.Pelaku kekerasan terutama adalah orang tua atau kerabat anak, pengasuh, orang di sekitar tempat tinggal anak, dan guru. Anak, dalam undang-undang biasa disebut "orang di bawah umur", adalah mereka yang berusia di bawah 17 tahun. Pengalaman yang terbatas memengaruhi pemahaman dan persepsi anak tentang dunia. Mereka belum cukup pengalaman untuk menelaah semua informasi yang ada. Itulah sebabnya, anak sangat membutuhkan pendampingan orang dewasa. Namun, sebagian orang dewasa yang diharapkan dapat berperan sebagai "guru" justru berperilaku buruk terhadap anak.

Sebagai salah satu organisasi kemanusiaan dibawah naungan PBB yang peduli terhadap masalah anak-anak, UNICEF Indonesia bekerjasama dengan KPPPA (Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) membuat sebuah Campaign dengan nama #PelindungAnak yang bertujuan mengakhiri kekerasan terhadap anak. Dalam menjalankan kampanye #PelindungAnak UNICEF dan KPPPA mengajak berbagai lembaga swadaya masyarakat, akademisi, dan kelompok relawan untuk ikut berpartisipasi menyuarakan anti kekerasan terhadap anak.

          Kampanye #PelindungAnak ini untuk pertama kalinya dikenalkan oleh UNICEF dan KPPPA tanggal 11 Agustus 2015 pada Perayaan Hari Anak Nasional di Bogor. Dalam launching campaign #PelindungAnak, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise mempresentasikan Video Iklan Layanan Masyarakat #PelindungAnak pada Presiden Joko Widodo, anggota kabinet dan ratusan anak-anak dari seluruh nusantara yang hadir dalam acara Perayaan Hari Anak Nasional pada tanggal 11 Agustus 2015 di Istana Kepresidenan Bogor.

Salah satu media kampanye #PelindungAnak adalah website https://pelindunganak.org yang menyediakan berbagai informasi seputar Anti Kekerasan Terhadap Anak. Website https://pelindunganak.org merupakan portal informasi agar pengguna memahami, dapat mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak. Didalam website ini terdapat beberapa konten seperti : artikel, publikasi, apa yang perlu anda ketahui, apa yang perlu anak anda ketahui, dan video iklan layanan masyarakat. Selain itu juga dalam website ini pengguna dapat bergabung menjadi relawan #PelindungAnak dengan 3 Langkah : Langkah pertama, BERGABUNG dengan mengisi biodata di website pelindunganak.org, Langkah kedua, SEBARKAN link video iklan layanan masyarakat & website #PelindungAnak melalui sosial media twitter, facebook, dll, Langkah ketiga, LAPORKAN jika ada tindak kekerasan anak, cari lembaga layanan, bawa anak korban kekerasan, dan segera laporkan. Saat ini sudah ada 1681 orang relawan #PelindungAnak yang terdaftar di website pelindunganak.org.
 
Website pelindunganak.org ini ditujukan terutama bagi orang dewasa maupun para remaja, siapapun dan apapun perannya: ayah, ibu,  paman, bibi, kakek, nenek, tetangga, saudara  jauh, guru, Lurah, Ketua RT/RW, musafir, atau orang yang kebetulan sedang berada di suatu lingkungan. Semua dapat terlibat untuk mencegah dan menangani kekerasan terhadap anak, siapapun anak tersebut: anak Anda sendiri, keponakan, cucu, tetangga, murid, teman atau anak yang tidak Anda kenal sekalipun.

oleh : saraswatie puteri

 Yuk kunjungi langsung websitenya di :


 dan jadilah 
#PelindungAnak


KITA SEMUA ORANG TUANYA.
"Semakin banyak yang menjaga, semakin jauh kekerasan dari anak-anak kita.
Karena hanya kita yang bisa."


ADIK PAPUA BERSINERGI PROJECT CAMPAIGN


 ADIK PAPUA BERSINERGI
adalah sebuah program campaign yang dibuat oleh saya dan 2 rekan Tim Kartini Tifani dan Rahmi dalam lomba Campaign Public Relations Jambore Nasional Komunikasi 2015 yang diselenggarakan oleh ASPIKOM.



Apa itu ADIK PAPUA ?

ADIK PAPUA merupakan salah satu program beasiswa dari kemenristek dikti yang diperuntukan bagi siswa -siswi yang berasal dari daerah Papua & Papua serta daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) seperti Nusa Tenggara, Maluku Utara, dan Aceh Barat untuk melanjutkan sekolah di jenjang Perguruan Tinggi.


Mengapa kami tertarik memilih program beasiswa ini ? Karena ada suatu permasalahan yang mengakibatkan jumlah mahasiswa aktif ADIK PAPUA mengalami penurunan.














Campaign oleh :



Project campaign ini membawa kami menjadi 10 besar tim dalam lomba Public Relations Campaign Jambore Nasional Komunikasi 2015.

Semoga project ini dapat terealisasikan suatu saat nanti,

Terima kasih Tim Kartini,
XOXO